Selasa, 06 Mei 2014

Pupuk Organik Cair Nasa

Dari berbagai macam pupuk yang ada diantaranya ada yang berbentuk padat ada yang berbentuk Cair. PT. Natural Nusantara selain memproduksi Pupuk Organik Padat juga Mengeluarkan Pupuk Organik Cair Yang disebut sebagai POC NASA. Dengan diproduksi Pupuk Organik Cair Nasa diharapkan akan mempermudah para petani untuk pengaplikasiannya pada lahan. Sehingga petani tidak perlu direpotkan bagaimana cara membuat Pupuk Organik Cair karenan sudah  adanya POC NASA.

Pupuk Organik Cair NASA tidak cocok bila disebut pupuk daun karena selain memberikan nutrisi bagi tanaman melalui penyemprotan pada daun tetapi juga bisa membenahi kondisi tanah pertanian dari kondisi keras akibat overnya pemakaian pupuk kimia menjadi gembur lagi, jadi selain disemprot POC NASA juga bisa dikocorkan ketanah.

Berikut perlu kita sampaikan fungsi dari Pupuk Organik cair Nasa, diantaranya adalah:
  • Meningkatkan Kualitas - Kuantitas Produksi tanaman serta kelestarian lingkungan.
  • Menjadikan tanah yang keras menjadi tanah yang gembur.
  • Melarutkan sisa pupuk kimia di dalam  tanah.
  • Dapat mengurangi pemekaian pupuk kimia
  • Melarutkan kandunga pupuk kimia dalam tanah.
  • Memberikan unsur mikro dan makro yang dibutuhkan tanaman.
  • Dapat mengurangi penggunakan pupuk Urea, SP 36
  • Memacu pertumbuhan tanaman akar
  • Setiap  1liter  Produk Nasa setara dengan unsur hara  mikro 1ton pupuk kandang
  • Memacu pertumbuhan tanaman dan akar, merangsang pengumbian, pembungaan dan pembuahan serta mengurangi kerontokan bunga dan buah (mengandung hormon/ZPT Auksin, Giberellin, Sitokinin)
  • Membantu perkembangan mikro organisme tanah yang bermanfaat bagi tanaman (cacing tanah, penicilium glaucum dll)
  • Meningkatkan daya tahan tanaman dari hama dan penyakit.
  • Meningkatkan bobot unggas (bebek, ayam), ternak besar (spt kambing, sapi dll), ikan dan udang.
  • Meningkatkan nafsu makan unggas, ternak, ikan dan udang.
  • Membantu pembentukan plankton pakan alami ikan dan udang
 Info dan pemesanan Pupuk Organik Cair NASA / POC NASA silakan sms/call/whatsapp 087838967089/Pin BB 24D1F5A9

Minggu, 04 Mei 2014

Teknis Budidaya Pembenihan Lele

I.  PENDAHULUAN
Lele merupakan jenis ikan yang digemari masyarakat, dengan rasa yang lezat, daging empuk, duri teratur, dan dapat disajikan dalam berbagai menu masakan. PT. Natural Nusantara dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas, Kesehatan) membantu petani lele dengan paket produk dan teknologi.


II. PEMBENIHAN LELE
Adalah budidaya lele untuk menghasilkan benih sampai  berukuran tertentu dengan cara mengawinkan induk jantan dan betina pada kolam-kolam khusus pemijahan. Benih lele mempunyai prospek yang bagus dengan tingginya konsumsi lele serta banyaknya usaha pembesaran lele.

III. SISTEM BUDIDAYA
Terdapat 3 sistem pembenihan yang dikenal, yaitu:
1. Sistem Massal
Dilakukan dengan menempatkan lele jantan dan betina dalam satu kolam dengan perbandingan tertentu. Pada sistem ini induk jantan secara leluasa mencari pasangannya untuk diajak kawin dalam sarang pemijahan, sehingga sangat tergantung pada keaktifan induk jantan dalam mencari pasangannya.
2. Sistem Pasangan
Dilakukan dengan menempatkan induk jantan dan betina dalam suatu kolam khusus. Keberhasilannya ditentukan oleh ketepatan menentukan pasangan yang cocok antara kedua induk.
3. Pembenihan Sistem Suntik (Hyphofisasi)
Dilakukan dengan merangsang lele untuk memijah atau terjadi ovulasi dengan suntikan ekstrak kelenjar hyphofise, yang berada disebelah bawah otak besar. Untuk keperluan ini harus ada ikan sebagai donor kelenjar hiphofiseyang juga harus dari jenis lele.

IV. TAHAP PROSES BUDIDAYA

A. Pembuatan Kolam
Ada  2 macam/tipe kolam, yaitu bak dan kubangan (kolam galian). Pemilihan tipe kolam tersebut sebaiknya disesuaikan dengan lahan yangg tersedia. Secara teknis baik pada tipe bak atau tipe galian, pembenihan lele harus mempuyai:
  • Kolam tandon. Mendapatkan air langsung dari luar atau sumber air. Berfungsi untuk mendapatkan lumpur, peraediaan air dan penumbuhan plankton. Kolam tandon ini merupakan sumber air untuk kolam yang lain
  • Kolam pemeliharaan induk. Induk jantan dan betina selama masa pematangan telor dipelihara pada kolam tersendiri yang sekaligus sebagai tempat pematangan sel telur dan sel sperma.
  • Kolam pemijahan. Tempat perkawinan induk jantan dan betina. Pada kolam iniharus tersedia sarang pemijahan dari ijuk, batu bata, bambu dan lain-lain sebagai tempat hubungan induk jantan dan betina.
  • Kolam pendederan. Berfungsi untuk pembesaran anakan yang telah menetas dan telah berumur 3-4 hari. Pemindahan dilakukan pada umur tersebut kerena anakan mulai memerlukan pakan, yang sebelumnya masih menggunakan cadangan kuning telur induk dalam saluran pencernakannya.
B. Pemilihan Induk 
Induk jantan mempunyai tanda:
  • Tulang kepala berbentuk pipih.
  • Wrna lebih gelap.
  • Gerakannya lebih lincah, perut ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung.
  • Alat kelaminnya berbentuk runcing.
Induk betina bertanda:
  • Tulang kepala berbentuk cembung.
  • Wrna badan lebih cerah.
  • Perut mengembang lebih besar daripada punggung.
  • Alat kelamin berbentuk bulat 

    C. Persiapan Lahan
    Proses pengolahan lahan (pada kolam tanah) meliputi:
    • Pengeringan. Untuk membersihkan kolam dan mematikan berbagai bibit penyakit.
    • Pengapuran. Dilakukan dengan kapur dolomit atau zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan.
    • Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara). Untuk menetralkan racun dan berbagai gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa budidaya sebelumnya dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2sendok makan)/100m2. Penambahan pupuk kandang juga bisa dilakukan untuk menmbah kesuburan lahan.
    • Pemasukan air. Dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30cm dan dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele.
    Pada tipe kolam berupa bak, persiapan kolam yang dapat dilakukan adalah:
    • Pembersihan bak dari kotoran/sisa pembenihan sebelumnya
    • Penjemuran bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air dapat langsung penuh dan segera diberi perlakuan TON dengann dosis sama.
    D. Pemijahan
    Pemijahan adalah proses pertemuan induk jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Tanda induk jantan siap kawin yaitu alat kelamin berwarna merah. Induk betina tandanya sel telur berwarna kuning (jika belum matang berwarna hijau. Sel telur yang telah dibuahi menempel pada sarang dan dalam waktu 24 jam akan menetas menjadi anakan lele.

    E. Pemindahan
    Cara pemindahan:
    • Kurangi air disarang pemijahan sampai tinggi air 10-20cm.
    • Siapkan tempat penampungan dengan baskom atau ember yang diisi dengan air di sarang.
    • Samakan suhu pada ke dua kolam.
    • Pindahkan benih dari sarang ke wadah penampungan dengan cawan atau piring.
    • Pindahkan benih dari penampungan ke kolam pendederan dengan hati-hati pada malam hari, karena masih rentan terhadap tingginya suhu air.
    F. Pendederan
    Adalah pembesaran ingga berukuran siap jual, yaitu 5-7cm, 7-9cm, 9-12cm dengan harga berbeda. kolam pendederan permukaannya diberi pelindung berupa enceng gondok atau penutup dari plastik untuk menghindari naiknya suhu air yang menyebabbkan lele mudah stress. Pemberian pakan dilakukan sejak anakan lele dipindah ke kolam pendederan ini.

    V. MANAJEMEN PAKAN
    Pakan anakan lele berupa:
    • Pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil (paling baik) dikonsumsi pada umur dibawah 3-4 hari.
    • Pakan buatan untuk umur di atas 3-4 hari.kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar proteinnya.
    Untuk menambah nutrisi pakan, setiap pemberian pakan buatan dicampur dengan POC NASA dengan dosis 1-2 cc/kg pakan (dicampur air secukupnya), untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh karena mengandung berbagai unsur mineral penting, protein dan vitamin dalam jumlah yang optimal.

    VI. MANAJEMEN AIR
    Ukuran kualitas air dapat dinilai secara fisik:
    • Air harus bersih.
    • Berwarna hijau cerah.
    • Kecerahan/Transparansi sedang (30-40cm)
    Ukuran kualitas air secara kimia:
    • Bebas senyawa beracun seperti amoniak
    • Mempunyai suhu optimal (22-26 derajat celcius)
    Untuk menjaga kualitas air agar selalu dalam keadaan optimal, pemberian pupuk TON sangat diperlukan. TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat dan asam humat mampu menumbuhkan dan menyuburkan pakan alami yang berupa plankton dan jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun dan menciptakan ekosistem kolam yang seimbang. Perlakuan TON dilakukan pada lahan dengan cara dilarutkan dan disiramkan pada permukaan tanah kolam serta pada waktu pemasukan air baru atau sekurang-kurangnya setiap 10hari sekali.Dosis pemakaian TON adalah 25 gr/100m2.

    VII. MANAJEMEN KESEHATAN
    Pada dasarnya, anakan lele yang dipelihara tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) yang jelek. Kondisi air yang jelek sangat mendorong tumbuhnya berbagai bibit penyakit baik yang berupa protozoa, jamur, bakteri dan lain-lain. Maka dalam manajemen kesehatan pembenihan lele, yang lebih penting dilakukan adalah penjagaan kondisi air dan pemberian nutrisi yang tinggi. Dalam ke dua hal itulah peranan TON dan POC NASA sangat besar.

    Namun apa bila anakan lele terlanjur terserang penyakit, dianjurkan untuk melakukan pengobatan yang sesuai. penyakit-penyakit yang disebabkan oleh protozoa, bakteri dan jamur dapat diobati dengan formalin, larutan PK (Kalium permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati dan dosis yang digunakan juga harus sesuai.


     



    Jumat, 02 Mei 2014

    Mengapa Tanaman Membutuhkan POC NASA dan SUPERNASA?

    Tanaman Membutuhkan POC NASA dan SUPERNASA karena tanah kita di Indonesia menunjukkan gejala semakin keras akibat penumpukan sisa-sisa pupuk kimia dalam tanah yang tidak hancurdan terikat selama puluhan tahun.  Tanah yang keras akan menyebabkan pemberian pupuk tidak dapat optimal diserap oleh tanaman selain perkembangan akar tanaman akan terganggu.
    Pupuk NASA akan melarutkan sisa pupuk kimia tersebut sehingga tanah kembali menjadi gembur selain itu sisa pupuk kimia tersebut dapat dimanfaatkan kembali oleh tanaman. Selain itu tanah kita kekurangan 10 unsur hara Essensial yang mutlak/wajib dibutuhkan tanaman karena selama ini hanya tiga unsur hara Essensial saja yang kerap diberikan yaitu Urea (N), TSP/SP-36 (P) dan KCl (K). Sedangkan tanaman untuk tumbuh akan menyerap paling tidak 13 unsur hara Essensial dan setelah panen 13 jenis unsur hara akan hilangdari lokasi penanaman bersama dengan hasil panen yang diangkut keluar area penanaman.

    Kondisi ini di Indonesia sudah berlangsung puluhan tahun sehingga mudah di mengerti jika tanah-tanah kita kekurangan terutama 10 jenis unsur hara essensial. Penggunaan Pupuk POC NASA dan SUPERNASA bersama N, P dan K secara berimbang akan mengatasi masalah tersebut

    Minggu, 13 April 2014

    Minggu, 23 Maret 2014

    BVR, JAMUR SAHABAT PETANI


    Untuk mendapatkan Produk Natural BVR silakan Sms/Whatssapp 087838967089/Pin BB 24D1F5A9, DIJAMIN paket sampai alamat.
    Berbagai macam cara para petani berusaha mendapatkan panen sesuai yang diharapkan. Dalam hhal ini selain berusaha memberikan nutrisi/pupuk yang cukup untuk tanaman juga harus mengendalikan hama tanaman

    Sudah sejak dahulukala  para petani berusaha mengendalikan alam agar dapat meminimalisasi dampak destruktifnya pada tanaman, misanya dengan pembangunan sistem irigasi yang baik untuk menghindari kekeringan sekaligus mengendalikan banjir agar tanaman bisa tumbuh dengan baik. Hama... ya kalau bicara masalah hama, petani juga telah sejak lama mengenal teknologi pengendalian hama dan penyakit tanamandengan cara-cara tradisional. Kemajuan teknologi pertanian telah memungkinkan semakin dikembangkannya obat-obatan dan peralatan pengendali hama dan penyakit tanaman. Bersamaan dengan pengadopsian sistem pertanian modern,teknologi pengendalian hamadan penyakit pertanian ini telah memberikan kontribusi pada semakin melimpahnya produksi pertanian. 

    Dan setiap petani pasti berharap bahwa tanaman yang ditanamnya akan memberikan hasil yang maksimal ketika masa panen tiba terbebas dari serangan hama tanaman. Oleh karena itu setiap petani berusaha melakukan pengelolaan tanamandengan sebaik-baiknya. Mulai dari pemilihan bibit terbaik, sistem pengelolaan lahan yang baik, penggunaan pupukdan obat-obatan yang sesuai, irigasi yang baik dan sebagainya. Dengan ditempuhnya segala ikhtiar tersebut diharapkan tanaman akan memberikan hasil yang sebanding dengan jerih payahnya. Dampak yang kurang menguntungkan bagi lingkungan dan pertanian yang berkelanjutan. Penggunaan pestisida kimia justru dapat menimbulkan ledakan populasi hama karena pestisida juga membunuh musuh alami dari hama tanaman.
    Setiap petani pasti berharap bahwa tanaman yang ditanamnya akan memberikan hasil yang maksimal ketika masa panen tiba terbebas dari serangan hama penyakit. Oleh karena itu setiap petani berusaha melakukan pengelolaan tanaman sebaik-baiknya. Mulai dari pemilihan bibit yang terbaik, sistem pengelolaan lahan yang baik, penggunaan pupuk dan obat-obatan yang sesuai, irigasi yang baik dan sebagainya. Dengan ditempuhnya segala ikhtiar tersebut diharapkan tanamanakan memberikan hasil yang sebanding dengan jerih payahnya.
    Natural BVR. namun demikian, pertanian adalah bukan aktivitas yang berada di ruangan tertutup atau laboratorium, melainkan dilakukan di ruangan terbuka, sehingga interaksi langsung tanamandengan alam sekitarnya tidak mungkin terhindarkan lagi. Memang keberhasilan kegiatan pertanian sangat dipengaruhi oleh faktor alam, akan tetapi tidak sedikit pula kontribusi faktor alam terhadap kegagalan panen, misalnya kekeringan, bencana alam, ataupun gangguan hamadan penyakit tanaman.
    Untuk itu NASAdengan mottonya 3 K (Kualitas– Kuantitas – Kelestarian) memiliki produk teknologi pengendali hama dan penyakit pertanian yang selaras dengan lingkungan yaitu NaturalBVR. Natural BVRefektif dan efisien terhadap hamasasaran, tidak mematikan musuh alami,selaras keseimbangan alam, mudah dan relatif murah, aman terhadap lingkungan, manusia dan hewan, mendukung program pertanian berkelanjutan. Dengan demikian penggunaan Natural BVRdilahan pertanian, diharapkan akan mampu meningkatkan hasil produksi pertanian tanpa membahayakan lingkungan sekitarnya.

    Cara kerja NaturalBVR dengan bahan aktif Beauveria bassiana adalah masuk melalui mulut serangga hama, kemudian tumbuh dan berkembang menghancurkan sistem organ hama dari dalam. BVR yang menempel pada kulit hama dan mengeluarkan enzim (Kitinase,Protease, Lipase) untuk menghancurkan kulit. Natural BVRjuga mengeluarkan racun (Beauvericin, Beauveroilides, Asamoksalat) untuk membunuh hama. Miselium tumbuh secara progresif dan muncul pada badan hama yang mati, jika hama yang terinfeksi bersinggungan dengan hama yang sehat, maka hama akan tertulari, penularan dapat melalui angin. Kematian hama berkisar antara 4-8 hari setelah terinfeksi BVR. Natural BVR dapat digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman pada tanamanpadi, bawang merah, kacang panjang, cabai, tomat,kubis, buncis, semangka, kentang, apel, mangga, coklat, dan sebagainya. Adapun jenis hama dan penyakit tanaman yang dapat dikendalikan dengan Natural BVR adalah wereng (Nilaparvata sp.;Nephotettix sp.; Sogatella sp.), hama penggerek batang padi (Thryporhizasp.; Chilo supressalis), walang sangit(Leptocorixa accuta), kutu daun, kutu dompolan, dan penggerek buah coklat.

    Info dan Pemesanan NaturalBVR sms/whatsapp 087838967089/Pin BB 24D1F5A9

    Sabtu, 22 Februari 2014

    MENCEGAH GANGGUAN PERNAFASAN PADA AYAM

    Peternakan ayam broiler di Indonesia sangat luar biasa Perkembangannya , hal ini terkait dengan semakin tingginya permintaan daging ayam untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Kebutuhan daging ayam ras broiler (ayam pedaging) cenderung meningkat setiap tahun. Peningkatan kebutuhan ini sejalan dengan situasi perekonomian Indonesia yang terus bertumbuh. Konsumsi ayam ras pada tahun 2013 ini mencapai 2,2 miliar ekor. Jumlah tersebut naik 15,79% dibandingkan konsumsi ayam ras sepanjang 2012 sebanyak 1,9 juta miliar ekor (Kontan, 2013). Inilah potensi besar peternakan ayam broiler di Indonesia yang sangat diminati oleh masyarakat hingga saat ini.

    Dari potensi yang luar biasa tersebut, hal yang masih menjadi kendala atau tantangan bagi peternak ayam broiler adalah serangan penyakit yang cukup sering pada ayam yang dianggap paling baik produktivitas sebagai ternak penghasil daging. Salah satu yang sering menyerang ayam broiler adalah penyakit pernafasan. Beberapa penyakit yang muncul dari gangguan pernafasan seperti CRD, Korisa, ND, AI dan IB. Tetapi penyebab gangguan pernafasan pada ayam bisa disebabkan 2 hal yaitu faktor non infeksius dan faktor infeksius (Medion, 2013). Faktor non infeksius seperti sirkulasi udara dalam kandang yang tidak lancar, kepadatan ayam yang terlalu tinggi, jarak antar kandang terlalu dekat, kandang terlalu dekat dengan tebing atau telalu banyak pepohonan sehingga mengakibatkan pembuangan udara kotor dan gas-gas beracun seperti amonia menjadi terhambat. Selain itu faktor non infeksius pada gangguan pernafasan bisa disebabkan karena pakan yang diberikan ke ayam tidak seimbang, terutama kadar protein dan garam.  Kadar protein dan garam yang tinggi pada pakan serta litter atau alas kandang yang terlalu basah memacu munculnya gas amonia yang akan mengganggu pernafasan ayam. Sedangkan gangguan pernafasan yang disebabkan oleh faktor infeksius terdiri dari serangan virus (ND, AI, IB dan ILT), bakteri (CRD, Korisa) maupun jamur Aspergillosis sp. (Medion, 2013)

    Untuk melakukan pencegahan terhadap penyakit-penyakit pernafasan tersebut, maka perlu dilakukan beberapa hal yaitu :
    1) Menciptakan kondisi kandang dan sekitarnya yang nyaman, seperti mengatur kelancaran sirkulasi udara sehingga gas amonia dalam kandang dapat dikurangi, menambahkan kipas angin atau blower untuk membantu sirkulasi udara.
    2) Melaksanakan program vaksinasi secara teratur sesuai jadwal.
    3) Memberikan multivitamin dari NASA yaitu VITERNA setiap harinya pada air minum, VITERNA mengandung vitamin dan mineral lengkap untuk meningkatkan daya tahan tubuh ayam sehingga tidak mudah terserang oleh penyakit
    4) Upayakan kandang penyimpan pakan tidak terlalu lembab
    5) Menerapakan program biosecurity yaitu pelaksanaan sanitasi dan desinfeksi secara rutin
    6) bila ada ayam yang sudah terindikasi terkena penyakit pernafasan segera dipisahkan dari ayam yang lain dan dimasukkan ke dalam kandang isolasi (Medion, 2013)

    Info dan Pemesana Viterna sms/whatsapp 087838967089/Pin BB 24D1F5A9

    Selasa, 11 Februari 2014

    CARA MEMBUAT BENIH PADI BER-TEKNOLOGI ORGANIK NASA

    Salam NASA!!

    Rekan-rekan mitra NASA dan pejuang-pejuang bangsa saudaraku para petani padi dimanapun anda berada, bagaimanakah cara membuat benih padi ber-teknologi NASA..???

    Nah...kali ini kita akan belajar bersama membuat benih padi unggul. Benih padi yang unggul sangat penting sekali bagi kita karena benih merupakan faktor utama dan penentu keberhasilan budidaya kita. Bagaimanapun baiknya perawatan tanaman yang kita lakukan tidak akan ada gunanya jika benih yang kita gunakan sangat jelek.

    Kini sangat banyak benih padi yang beredar di pasaran, namun apakah semuanya mempunyai kualitas yang baik? Seringkali kita menemukan kejadian walaupun benih yang kita gunakan tersebut telah bersertifikat dan berlabel namun setelah kita tanam hasilnya kurang memuaskan. Yah, namanya juga jaman sekarang apa saja bisa dicurangin apalagi proyek benih. Wuih....waspadalah.....


    Langkah yang utama untuk membuat benih padi yang unggul adalah kita harus memiliki benih padi  berlabel putih, benih dengan label putih bisa kita dapatkan di balai benih padi setempat.  Seandainya kita kesulitan mendapatkan benih berlabel putih kita bisa juga menggunakan benih yang berlabel ungu. Benih berlabel ungu bisa kita dapatkan di kios-kios pertanian. Kebutuhan benih sekitar 25 Kg untuk lahan 1 ha.

    Langkah yang kedua kita siapkan lahan untuk menanam padi tersebut. Lahan harus terisolasi dengan tanaman padi yang lain agar kemurniannya terjaga. Jarak antar lahan dan tanaman padi yang lain minimal 10 m. Atau paling enak kalau kita menanamnya berbeda waktu dengan tanaman padi yang lain. Terserah saja caranya yang penting jangan sampai waktu pembungaannya sama.

    Sebelum benih label putih/ ungu  kita semai, sebaiknya kita seleksi dulu dengan menggunakan air garam/ air abu. Gunakan benih yang terendam dan jangan gunakan benih yang mengapung. Rendam dengan air bersih ditambah pupuk organik cair NASA selama 24 jam dan tiriskan selama 24 jam pula. Namun jika calon akar belum ada 0,5 cm pemeraman bisa diperlama 24 jam lagi.

    Lahan pesemaian kita siapkan seperti biasa dengan luas kurang lebih 20 % dari luas lahan. Cara pembuatan bibit seperti padi biasa, hanya yang harus diperhatikan adalah saat bibit padi umur 1 minggu sebaiknya semprot Pupuk Organik Cair NASA + HORMONIK + pestisida organik PESTONA secukupnya. Dan saat bibit satu minggu menjelang  tanam sebaiknya kita aplikasi pestisida organik BVR dan CORRIN, agar saat penanaman nanti tidak ada hama dan penyakit yang terbawa ke pertanaman.


    Pada saat pengolahan tanah luku garu sebaiknya ditaburi Dolomit  ditambah pupuk organik padat SUPERNASA dan Phospat (TSP atau SP-36).

    Cara penanaman benih padi unggul yang baik adalah harus memperhatikan jarak tanam, yaitu jangan kurang dari 22 cm. Dan gunakan sistem tanam legowo 2 : 1 atau maksimal  4:1. Tanam harus umur muda, kurang dari 18 hss (hari setelah semai). Saat penanaman jangan terlalu dalam. Gunakan cara tanam jiwir 2-3 batang per lubang. Inilah kunci untuk meningkatkan produksi benih padi unggul.

    Dalam pemeliharaan yang paling penting adalah pengairan yang berselang, yaitu pemberian air dan buang air sampai tanah agak mengering. Tanaman jangan selalu direndam air. Pemupukan gunakan NPK 300 kg/ ha dan tambahkan urea 100 kg/ha atau sesuaikan kebutuhan dengan menggunakan bagan warna daun.  Pemupukan bisa diberikan 2 kali ataupun 3 kali. Penyemprotan Pupuk Organik Cair NASA dan HORMONIK atau GREENSTAR tiap 1-2 minggu sekali dan bisa dicampur dengan pestisida organik seperti PESTONA, BVR dan CORRIN.

    Ketika tanaman benih padi unggul telah berbuah maka perlu dilakukan penyortiran, hal ini berguna untuk meningkatkan kemurnian benih. Penyortiran dilakukan dengan cara membuang/ memangkas bulir-bulir padi yang berbeda varietasnya. Pemangkasan juga dilakukan terhadap jenis gulma yang sefamili dengan padi.

    Ada trik juga untuk memantapkan pengisian bulir, yaitu dengan cara menambahkan pupuk NPK ditambah pupuk organik padat POWER NUTRITION ketika bulir padi telah masak susu. Hal ini berfungsi untuk memperlama proses pengisian dan memundurkan masa panen.

    Pemanenan benih padi unggul dilakukan jangan bersamaan dengan tanaman padi konsumsi. Hal ini bertujuan agar supaya benih tidak tercampur dengan benih lain. Gunakan sabit yang bergerigi dan taruh potongan malai pada terpal atau karung bekas. Pemanenan dilakukan saat padi menguning sekitar 90 %.

    Penjemuran calon benih padi unggul sebaiknya  tidak dilakukan dilantai jemur, tapi harus diberi alas terpal atau anyaman bambu. Penjemuran sebaikknya dilakukan saat pagi hari sekitar jam 07.00 sampai jam 10.00 dan sore hari sekitar jam 14.30 sampai jam 17.00. Keringkan sampai kadar air sekitar 14-12 %. Sebelum digunakan untuk benih sebaiknya benih padi unggul dilakukan stagnasi dulu (disimpan dalam karung) sekitar  1-2 minggu. Setelah proses stagnasi bibit padi unggul siap digunakan.